Oleh: Abu Khaulah Zainal Abidin
Sumber: http://www.mimbarislami.or.id

Tiada berdosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, sakit, dan yang tak memiliki apapun yang dapat mereka nafkahkan, selagi mereka berlaku ikhlas kepada ALLAH dan Rasul- NYA) (At-Taubah:91)

Wujud ketulusan kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana yang aku ketahui dari penjelasan Imam Al Qurthuby rahimahullah di dalam tafsirnya:

Pertama: “Membenarkan kenabiannya.“

Tentu saja itu artinya aku harus mengakui segala sifat dan atribut yang melekat pada diri Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai rasul-ALLAH. Bahwa Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang yang amanah, mustahil khianat. Beliau seorang yang jujur, mustahil pendusta. Beliau seorang mubaligh (menyampaikan ilmu), mustahil kitman (menyembunyikan ilmu). Beliau arif, mustahil ahmaq (pandir).

Dengan pengakuan itu semua, maka tak ada alasan dan kesempatan bagiku untuk memiliki keyakinan bahwa ada kebaikan yang Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam tidak mengetahui, atau Beliau lupa, bahkan sengaja tidak menyampaikan kepada ummatnya. Bukankah Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam telah mengatakan:

(“Tidak tertinggal sedikitpun perkara yang dapat mendekatkan ke surga dan menjauhkan dari neraka, kecuali telah aku jelaskan bagi kalian.”)

Membenarkan kenabiannya juga artinya tidak menuduh Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai penghianat Ar-Risalah. Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam menghianati Ar-Risalah? Siapa yang begitu lancang, berani, dan tega menuduh semacam itu ? Tentu saja tak seorangpun berani atau tega sengaja berkata seperti itu. Ya, memang lidahku tak mungkin mengucapkannya. Tetapi, boleh jadi perbuatanku yang menunjukkan tuduhan tersebut. Yakni, manakala aku menganggap ada kebaikan pada perkara-perkara ibadah yang tidak pernah dicontohkan oleh Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam. Aku ingat betul apa yang dikatakan oleh Al Imam Malik rahimahullah:

(Barangsiapa berbuat bid’ad di dalam Al Islam, kemudian ia menganggap itu sebagai sesuatu yang baik. Maka sesungguhnya ia telah menuduh bahwasanya Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam penghianat Ar-Risalah. Karena sesungguhnya ALLAH telah berfirman: “Hari ini telah Aku sempurnakan bagi mu agamamu.” Maka yang ketika itu bukan merupakan bagian dari agama Islam, sampai hari ini pun bukan bagian dari agama Islam) (Al I’tisham:I/49)

Sudahkah aku?


Ke-dua: “Senantiasa menta’ati perintah dan larangannya.”

Rasulullah bersabda:

(Apa saja yang aku larang kalian atas nya, jauhilah. Dan apa saja yang aku perintahkan kalian akan nya, maka kerjakanlah sekuat kemampuanmu...) (HR: Al Bukhari dan Muslim)

Tentu saja bukan perkara mudah bagi ku untuk senantiasa di dalam keta’atan kepada Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam. Namun aku senantiasa berharap agar termasuk orang-orang tulus kepada dia. Karena menta’ati Rasulullah merupakan bukti dari ketaatanku kepada ALLAH sbahanahu wa ta’ala (Artinya: Barangsiapa menta’ati Ar-Rasul, maka sesungguhnya ia telah menta’ati ALLAH...)(An-Nisaa’:80)

Menta’ati Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam juga artinya menta’ati para ulama dan orang-orang yang diberi amanah mengurus ummat. Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam sendirilah yang menyatakan demikian:

(Barangsiapa yang ta’at kepada ku, berarti telah ta’at kepada ALLAH. Dan barangsiapa yang menentang aku, berarti ia menentang ALLAH. Barangsiapa yang ta’at kepada amirku, berarti ia telah ta’at kepadaku. Dan barangsiapa yang menentang amirku, berarti ia menentang aku.)

Sudahkah aku?


Ke-tiga: “Membela yang membelanya, memusuhi yang memusuhinya.”

Tentu saja yang dimaksud dengan pembelanya adalah mereka yang membela dan mengusung ajaran Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam. Dan yang dimaksud dengan musuhnya adalah mereka yang menentang dan memerangi ajaran Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam. Maka di antara tanda ketulusanku kepada Beliau, adalah dengan membela dan mendukung mereka yang mengusung ajaran Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam dan membenci mereka yang menentang ajaran Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam.

Tak layak bagiku untuk merasa benci terhadap mereka yang mencintai Sunnah Rasulullah shaJuga aneh rasanya, jika aku gelisah melihat semangat mereka dan kebanggaan mereka akan Sunnah. Bahkan, seharusnya aku bersuka cita melihat semakin banyak dan nampak orang-orang yang membela Sunnah.

Begitu pula, aneh rasanya jika aku tak merasa resah dan gerah melihat kebid’ahan semakin marak. Terlebih lagi aneh, jika setelah aku mengetahui bahwa tidaklah Bid’ah itu diadakan kecuali dalam rangka mematikan Sunnah, kemudian aku membiarkan saja itu terjadi dan terus-menerus berkasih sayang dengan pembunuh-pembunuh Sunnah.

Sudahkah aku?


Ke-empat: “Mengagungkan Beliau dan mengagungkan Sunnahnya.”

Sungguh, tak ada pribadi yang lebih agung dari beliau dan tak ada teladan yang lebih baik dari pada Sunnahnya. ALLAH subahanahu wa ta’ala menegaskan:

(Artinya: Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) memiliki budi pekerti yang agung) (Al Qalam:4)

(Artinya: Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah teladan yang baik bagi kalian, (yaitu) bagi orang yang mengharapkan ALLAH dan Hari Akhir serta banyak mengingat ALLAH) (Al Ahzab:21)

Melalui ayat-ayat di atas sadarlah aku, bahwa kalaupun aku tak mengagungkan Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam dan juga Sunnahnya, bahkan -na’udzubillah- seandainya aku hinakan Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam dan Sunnahnya, maka Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam beserta Sunnahnya tetaplah senantiasa agung, sebagaimana tak ada yang mampu mengubah, mengurangi atau menambah firman-ALLAH.

ALLAH itu Akbar (Maha Besar) dan senantiasa Akbar, meski seluruh makhluq-NYA -dari awal penciptaan sampai yang terakhir, dari kalangan manusia beserta jin- tidak bertakbir. Namun demikian tetaplah kita wajib bertakbir. Bukan untuk ALLAH, tetapi demi keselamatan kita sendiri.

Begitu pula dengan Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam dan Sunnahnya, senantiasa agung meskipun seluruh manusia merendahkan dan mencelanya. Namun demikian, tetaplah kita wajib mengagungkannya. Bukan untuk Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam, tetapi sebagai tanda ketulusan kita kepada nya.

Tentu saja tidak termasuk tulus kepada Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam, manakala aku merasa hina dan malu menjalankan Sunnah. Lantas untuk apa ALLAH subahanahu wa ta’ala menerangkan tentang keagungan dan keteladanan Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam jika kemudian aku malu untuk hidup dengan cara hidup Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam?

Sudahkah aku?


Ke-lima: “Memelihara Sunnah Beliau setelah Beliau tiada.”

Artinya: Tiada berdosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, sakit, dan yang tak memiliki apapun yang dapat mereka nafkahkan, selagi mereka berlaku ikhlas kepada ALLAH dan Rasul- NYA) (At-Taubah:91)

Wujud ketulusan kepada Rasulullah j sebagaimana yang aku ketahui dari penjelasan Imam Al Qurthuby rahimahullah di dalam tafsirnya:

Tentu saja itu artinya aku harus mengakui segala sifat dan atribut yang melekat pada diri Muhammad j sebagai rasul-ALLAH. Bahwa Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang yang amanah, mustahil khianat. Beliau seorang yang jujur, mustahil pendusta. Beliau seorang mubaligh (menyampaikan ilmu), mustahil kitman (menyembunyikan ilmu). Beliau arif, mustahil ahmaq (pandir).

Dengan pengakuan itu semua, maka tak ada alasan dan kesempatan bagiku untuk memiliki keyakinan bahwa ada kebaikan yang Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam tidak mengetahui, atau Beliau lupa, bahkan sengaja tidak menyampaikan kepada ummatnya. Bukankah Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam telah mengatakan:

(“Tidak tertinggal sedikitpun perkara yang dapat mendekatkan ke surga dan menjauhkan dari neraka, kecuali telah aku jelaskan bagi kalian.”)

Membenarkan kenabiannya juga artinya tidak menuduh Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai penghianat Ar-Risalah. Muhammad shalallahu ‘alahi wasallam menghianati Ar-Risalah? Siapa yang begitu lancang, berani, dan tega menuduh semacam itu ? Tentu saja tak seorangpun berani atau tega sengaja berkata seperti itu. Ya, memang lidahku tak mungkin mengucapkannya. Tetapi, boleh jadi perbuatanku yang menunjukkan tuduhan tersebut. Yakni, manakala aku menganggap ada kebaikan pada perkara-perkara ibadah yang tidak pernah dicontohkan oleh Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam. Aku ingat betul apa yang dikatakan oleh Al Imam Malik rahimahullah:

(Barangsiapa berbuat bid’ad di dalam Al Islam, kemudian ia menganggap itu sebagai sesuatu yang baik. Maka sesungguhnya ia telah menuduh bahwasanya Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam penghianat Ar-Risalah. Karena sesungguhnya ALLAH telah berfirman: “Hari ini telah Aku sempurnakan bagi mu agamamu.” Maka yang ketika itu bukan merupakan bagian dari agama Islam, sampai hari ini pun bukan bagian dari agama Islam) (Al I’tisham:I/49)

Sudahkah aku?


Rasulullah bersabda:
(Apa saja yang aku larang kalian atas nya, jauhilah. Dan apa saja yang aku perintahkan kalian akan nya, maka kerjakanlah sekuat kemampuanmu...) (HR: Al Bukhari dan Muslim)

Tentu saja bukan perkara mudah bagi ku untuk senantiasa di dalam keta’atan kepada Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam. Namun aku senantiasa berharap agar termasuk orang-orang tulus kepada dia. Karena menta’ati Rasulullah merupakan bukti dari ketaatanku kepada ALLAH subahanahu wa ta’ala:
(Artinya: Barangsiapa menta’ati Ar-Rasul, maka sesungguhnya ia telah menta’ati ALLAH...)(An-Nisaa’:80)

Menta’ati Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam juga artinya menta’ati para ulama dan orang-orang yang diberi amanah mengurus ummat. Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam sendirilah yang menyatakan demikian:

(Barangsiapa yang ta’at kepada ku, berarti telah ta’at kepada ALLAH. Dan barangsiapa yang menentang aku, berarti ia menentang ALLAH. Barangsiapa yang ta’at kepada amirku, berarti ia telah ta’at kepadaku. Dan barangsiapa yang menentang amirku, berarti ia menentang aku.)

Sudahkah aku?


Tentu saja yang dimaksud dengan pembelanya adalah mereka yang membela dan mengusung ajaran Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam. Dan yang dimaksud dengan musuhnya adalah mereka yang menentang dan memerangi ajaran Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam. Maka di antara tanda ketulusanku kepada Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam, adalah dengan membela dan mendukung mereka yang mengusung ajaran Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam dan membenci mereka yang menentang ajaran Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam.

Tak layak bagiku untuk merasa benci terhadap mereka yang mencintai Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, Juga aneh rasanya, jika aku gelisah melihat semangat mereka dan kebanggaan mereka akan Sunnah. Bahkan, seharusnya aku bersuka cita melihat semakin banyak dan nampak orang-orang yang membela Sunnah.

Begitu pula, aneh rasanya jika aku tak merasa resah dan gerah melihat kebid’ahan semakin marak. Terlebih lagi aneh, jika setelah aku mengetahui bahwa tidaklah Bid’ah itu diadakan kecuali dalam rangka mematikan Sunnah, kemudian aku membiarkan saja itu terjadi dan terus-menerus berkasih sayang dengan pembunuh-pembunuh Sunnah.

Sudahkah aku?


Sungguh, tak ada pribadi yang lebih agung dari beliau dan tak ada teladan yang lebih baik dari pada Sunnahnya. ALLAH subahanahu wa ta’ala menegaskan:
(Artinya: Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) memiliki budi pekerti yang agung) (Al Qalam:4)

(Artinya: Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah teladan yang baik bagi kalian, (yaitu) bagi orang yang mengharapkan ALLAH dan Hari Akhir serta banyak mengingat ALLAH) (Al Ahzab:21)

Melalui ayat-ayat di atas sadarlah aku, bahwa kalaupun aku tak mengagungkan Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam dan juga Sunnahnya, bahkan -na’udzubillah- seandainya aku hinakan Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam dan Sunnahnya, maka Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam beserta Sunnahnya tetaplah senantiasa agung, sebagaimana tak ada yang mampu mengubah, mengurangi atau menambah firman-ALLAH.

ALLAH itu Akbar (Maha Besar) dan senantiasa Akbar, meski seluruh makhluq-NYA -dari awal penciptaan sampai yang terakhir, dari kalangan manusia beserta jin- tidak bertakbir. Namun demikian tetaplah kita wajib bertakbir. Bukan untuk ALLAH, tetapi demi keselamatan kita sendiri.

Begitu pula dengan Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam dan Sunnahnya, senantiasa agung meskipun seluruh manusia merendahkan dan mencelanya. Namun demikian, tetaplah kita wajib mengagungkannya. Bukan untuk Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam, tetapi sebagai tanda ketulusan kita kepada nya.

Tentu saja tidak termasuk tulus kepada Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam, manakala aku merasa hina dan malu menjalankan Sunnah. Lantas untuk apa ALLAH subahanahu wa ta’ala menerangkan tentang keagungan dan keteladanan Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam jika kemudian aku malu untuk hidup dengan cara hidup Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam?

Sudahkah aku?


Ke-enam: “Memelihara Sunnah Beliau

Memelihara dan senantiasa menghidupkan Sunnahnya setelah kematian Beliau r tentu “ dengan membahasnya, mengambil fiqh dari nya, memelihara kemurniannya, menyebarkannya, mengajak manusia kepada nya, dan berakhlaq dengan akhlaq Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam yang karimah.”

Ya, sudahkah aku tulus kepada dia?

0 comments: